Kenapa harus Melayu?

Mungkin ada yang bertanya kenapa blog ini namanya satumelayu.com padahal saya Orang Indonesia. Kenapa saya harus membuat blog dengan tema Melayu? Jawabnya setidaknya ada 3, yaitu seperti saya tulis di bawah ini:

Ilustrasi gambar lelaki melayu
Ilustrasi gambar lelaki melayu oleh Meta AI

Saya Orang Melayu

Saya lahir di Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga - Provinsi Kepulauan Riau. Saya merupakan salah satu dari berjuta Orang Melayu yang ada di Indonesia. Kebetulan pula kampung halaman saya (Kepulauan Riau) adalah tempat mayoritas Penduduk Melayu yang kental dengan Budaya Melayu serta memang berbahasa Melayu.

Yang menariknya Bahasa Nasional Indonesia atau yang dikenal dengan nama Bahasa Indonesia sebenarnya adalah Bahasa yang diambil dari kampung halaman saya. Secara historisnya Kepulauan Riau ini adalah pusat dari berbagai Kesultanan Melayu, seperti Kesultanan Johor & Kesultanan Riau-Lingga. 


Wujud sumbangsih kebhinekaan kepada Indonesia

Indonesia mempunyai Moto "Bhineka tinggal ika" yang berarti "tetap satu (walau) dalam perbedaan". Dengan mewujudkan blog bertema Melayu ini saya juga turut berpartisipasi menjadi bagian kebhinekaan itu. Bagaimana pun negara ini (Indonesia) adalah negara yang Bhineka tunggal ika, maka kita wajib dan berhak menjadi bagian keberagaman itu.

Jika kita (Indonesia) semua menjadi "sama", maka kita bukan lah Bhineka tunggal ika melainkan ika tunggal ika. Di Jawa misalnya, masyarakat Jawa bangga dengan bahasa dan adat istiadat Jawa mereka, begitu pula di Sumatera Barat yang cinta kepada Bahasa dan Budaya Minangkabau mereka. Maka ada baiknya saya dan kami semua Penduduk Melayu dalam negara ini juga melakukan hal yang sama untuk mengisi "keberagaman' di Indonesia ini.

Mempertahankan khazanah Melayu di kampung halaman

Saya sangat khawatir kepada perkembangan zaman yang serba digital sekarang akan menggerus "kemelayuan" Anak Muda Melayu. Terutama sekali di kawasan Kepulauan Riau ini yang notabene-nye adalah kawasan industri & perdagangan. Pendatang dari berbagai kawasan datang silih berganti kemari, tentunya hal itu memberi dampak sedikit banyak kepada generasi muda.

Yang sudah jelas terasa paling tidak adalah perubahan Bahasa. Anak muda zaman sekarang mulai menyelipkan kata-kata dari Bahasa Jawa/Sunda yang biasa didengar mereka saat main "game online". Contohnya "nanti jangan lupe mampir rumah aku ye", padahal di era sebelum tahun 2010 kalimat itu masih berbunyi "nanti jangan lupe singgah rumah aku ye". Salah satu contoh lagi adalah "nantik sore aku ke rumah kau, eh becande je, malam lah sekitar jam 7", sebelum tahun 2010 "petang nanti aku ke rumah kau, eh gurau je, malam lah sekitar jam 7".

Mungkin daerah lain juga mempunyai dilema yang sama dengan yang kami rasakan di Kepulauan Riau ini. Yang jelas tentunya saya mempunyai kebimbangan tersendiri kepada Kepulauan Riau. Sebab saya memang warga sini dan sejak kecil sudah merasa ada "perubahan" di kampung halaman saya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel